Jumat, 08 Juli 2011

Kota Bandung “Dibeli” Orang Malaysia

Kalau datang ke lapangan udara (airport ) di Bandung, banyak di sana bertengger pesawat dari Malaysia. Salah satunya Air Asia yang melayani penerbangan Bandung ke Kuala Lumpur satu hari 3 kali.  Selain itu juga ada pesawat Malaysian Airlines yang terbang satu kali dalam satu hari dengan waktu penerbangan yang sesuai dengan waktu checkin dan checkout Hotel, ini semakin menarik bukan saja pengguna penerbangan murah tapi juga orang yang berduit dari Malaysia.
Lapangan Udara di Bandung
Lapangan Udara di Bandung
Banyak orang Malaysia belanja baju di berbagai tempat di Bandung. Kebetulan saya dekat dengan dua orang Malaysia saat menuju ke Kuala Lumpur dalam penerbangan tgl 6 Juli 2011.  Saya tanyakan apa tujuan ke Bandung. Ternyata dia bukan untuk beli baju, tapi menjual obat tertentu untuk membuat air mineral. Wah … lama2 Kota Bandung jadi milik orang Malaysia nich. Selain itu dia bilang banyak beli emas. Di Indonesia emas lebih murah katanya.
Saya tidak mau katakan banyaknya orang Malaysia ke Bandung itu suatu hal yang positip atau negatif, tetapi yang jelas Kota Bandung kondisi jalan rayanya “semakin macet”.  Dengan jumlah penerbangan dari Malaysia ini tentunya menambah jumlah wisatawan dan tak heran mereka juga menggunakan kendaraan menuju daerah pertokoan.  Saya perhatikan kondisi lebar dan ruas jalan tidak berubah ( atau mungkin tidak bisa dilebarkan lagi ). Pernah lewat suatu jalan yang bernama Jalan Cemara, panjang jalan tidak sampai 1 km, tetapi untuk menempuhnya butuh waktu setengah jam, karena macet di lampu merah persimpangan jalan.
Bukan mau menyalahkan toko pakaian/outlet yang terkenal di jalan Setia Budhi, akan tetapi dengan adanya toko itu Jalan Setia Budhi baik yang naik ataupun turun jadi macet. Sudah waktunya dipikirkan untuk mengatur tempat toko di Bandung supaya tidak terjadi kemacetan. Mungkin perlu dibuat suatu tempat luas dimana semua toko2 jadi satu tempat semacam “Central Outlet”, yang di buat agak ke luar kota sehingga kendaraan yang menuju pertokoan itu tidak membuat macet kendaraan lain.  Orang yang di Bandung tidak hanya belanja, tetapi juga banyak yang sekolah dan bekerja, sehingga kemacetan sungguh menganggu kegiatan sehari-hari.  Sudah saatnya pemerintah daerah Jabar, khususnya Kodya Bandung memikirkan soal meningkatnya jumlah wisatawan ini. Apalagi di hari libur, selain dari Malaysia juga datang dari Jakarta dan kota2 sekitarnya. Dinas tata kota perlu kembali memikirkan. Ada jurusan Planologi di ITB, mungkin kiranya bisa menyumbangkan ide2nya.
Iseng2 saya tanyakan kenapa orang Malaysia tidak ada yang mau jadi pembantu, tetapi pembantu dari orang Indonesia, dia jawab : gaji pembantu rumah tangga itu kecil, jadi orang malaysia tidak mau.  Kesimpulannya orang malaysia sebagian besar lebih baik tingkat ekonominya dari pada orang Indonesia.  Gaji kecil pembantu di Malaysia mungkin sangat besar bagi orang Indonesia. Dia katakan gaji pembantu sekitar 500 atau 600 RM ( ringgi malaysia ), jadi sekitar 1,5 juta rupiah ( satu setengah juta rupiah ) perbulan. Dengan kondisi ini bukan saja Bandung yang “dibeli” oleh orang Malaysia, tetapi semua pembantu rumahtanggapun dibelinya.
Dengan dibukanya penerbangan langsung ke Bandung memang sangat menjadikan mudah dan menghemat biaya transport dibandingkan melewati Jakarta. Dengan dibukanya jalur penerbangan ini, mudah2an para pengusaha Indonesia di Bandung melihat peluang untuk memperluas usaha. Akan tetapi nampaknya tidak semudah yang kita bayangkan,  tiap negara punya aturan tertentu. ” Di Indonesia gampang memasukan obat, sedangkan di Malaysia sangat susah” : kata orang Malaysia di sebelah saya. Yang dimaksud obat itu adalah “bahan” untuk pembersih atau pembuat air mineral.
Jalan Setia Budhi yang macet
Jalan Setia Budhi yang macet dari arah atas ataupun bawah
Semoga tulisan ini bisa mendorong agar kota Bandung tetap menjadi kota orang Indonesia, yang enak dan tidak menjadi sangat macet karena orang lain banyak berkunjung.

LINK JEJARING SOSIAL

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More